August 21, 2015

Drachenreiter, Unicorn-Rider, dan Nasi Angkringan



Banyak yang mesti disyukuri dalam hidup, ini salah satu contohnya.           

Jadi saya kembali menulis, curhat sih sebenarnya. Soal perjalanan singkat saya dalam rangka misi mengantar adik saya ke kota di seberang pulau. Tidak naik unicorn kali ini. Saya baru setahun kurang mengendarai unicorn sendiri, nggak punya stamina buat sejauh itu, belum lagi jadwal dunia nyata saya yang tidak bisa lama-lama ditinggal. Maka dengan titah dan dukungan material dari kedua bos besar di rumah, saya dan si adik ababil berangkat.

Standar ya, burung besi delay sejam lebih. Nah, kebodohan saya dan si adik, sebut saja namanya Rem, kami menonaktifkan alat komunikasi segera setelah masuk ruang tunggu, karena nggak bawa cadangan baterai dan lupa mengisi baterai perangkat telekomunikasi tersebut. Walhasil, kedua orangtua bocah-bocah labil ini panik. Dan begitu sampai di ibukota, saya dimarahi. Saya tau, ini marahnya kekhawatiran, karena dua anak gadis kece ke kota besar seberang samudra, trus penerbangannya kok lama banget, menimbulkan asumsi di kepala mama saya. Yang jelas-jelas mewariskan sifat cerewet, dan too much worrying things-nya pada saya. Yah, mungkin seharusnya saya naik naga saja. Tetapi saya nggak bakat, nggak punya naga, dan kebetulan si Rem nggetokin kepala saya (adik durhaka) menyuruh saya berhenti berkhayal.

Setelah mengisi perut superkilat, ditambah dengan lari-larian mengejar bison biru bermerk DAMRI dengan jurusan ke kota calon kampusnya Rem (jangan dibayangkan nyeret-nyeret bawaannya yang banyak, menyedihkan dan menggelikan kalau dilihat), akhirnya dalam perjalanan berdurasi sekitar dua jam kurang sedikit (yang dihabiskan dengan tidur), kami sampai di kota yang terkenal dengan talasnya tersebut.

Kesan pertama, MACET. Setelah berganti dengan menumpang sebuah sedan James Bond, yang kebetulan supirnya setara kemampuannya seperti Dominic Toretto (ayolah, sedikit banyak pernah ngintip Fast and Furious kan ya), tapi tidak botak, kami dibawa melewati jalur-jalur tak biasa menghindari kemacetan. Meskipun akhirnya tetap terjebak macet juga. Si supir bilang, ini efek weekend, kunjungan presiden, dan karena pendatang baru dan rombongan sejenis Rem mulai bermunculan.

Sampai di penginapan di dalam kampus, istirahat singkat, saya dan Rem memutuskan jalan-jalan melihat kampus barunya. Nah, saya suka, adem, banyak pohonnya (semoga nggak banyak setannya), dan enak buat jalan kaki. Rem udah excited banget. Sedangkan saya lebih excited lagi karena saya bakal liburan mendadak ke kota selanjutnya segera setelah urusan bocah ini kelar.
Ini dia adik saya, agak manis sedikit, lebih manis saya pastinya

Comeback

Setelah hampir 2 tahun tidak mengacak-acak blog ini, saya memutuskan untuk kembali menyampah di dunia maya..selamat menikmati.. ^^
Selamat membaca..ini cengiran saya yang paling manis

August 20, 2015

Them, Kumpulan Cerita Pendek Tentang Mereka (P-4) - Tulisan Si Gondrong

“ Kadang, journey itu lebih menarik daripada destination “
            Hell, yeah. Mungkin memang demikian. Ada bagian dalam diri saya yang nyaris percaya kalau dunia diciptakan jauh lebih menarik di bagian perjalanannya, bukan bagian tujuannya. Tetapi, kalau saya boleh berargumen, keinginan menikmati perjalanan itu sering terbentur dengan batas-batas realitas yang sengaja atau tidak diciptakan sendiri oleh si makhluk ragawi.
            Why so serious ?
            Okelah. Saya nggak tau mesti merangkum ini dalam bentuk apa. Lebih ke personal literature mungkin. Buat saya yang sangat minim di dunia penulisan, mengetik (iya, mengetik di laptop, bukan mesin tik klasik jaman orangtua saya dulu) kata-kata seperti ini butuh sejenis tamparan inspirasi dan situasi tertentu yang kesannya biasa tapi berkesan. Nah begitulah.
            Jadi, yang saya tau, kita bertemu orang-orang pasti ada tujuannya. Bukan hanya kebetulan. Tuhan itu punya rencana, sesederhana elektron-elektron yang selalu bermuatan negatif dan meloncat di setiap inti atom. Seperti halnya pertemuan tidak biasa dengan orang ini, sebut saja si Gondrong.
            Ketemunya dimana ?

Musikal

             Harusnya dia tidak boleh bermimpi.
            Dia tau, di umur segini bukan masanya lagi untuk berlarut-larut membahas mimpi yang itu, berulang-ulang dalam kepalanya. Akan tetapi, sang mimpi tetap membandel, bertahan disitu, menghangatkan hatinya yang beku, sekaligus menusuk perasaannya terdalam. Bercokol disana, bagai dosa paling manis yang tak terhindarkan.
            Mungkin kau bingung, ini cerita macam apa. Tenang, kalau tak ingin melanjutkan, kau bisa berhenti disini. Lewatkan saja omongan sampah memusingkan ini.
            Jadi, dia, maksudku tokoh utama dalam cerita ini, adalah seorang wanita dewasa yang sudah sangat matang. Punya pekerjaan tetap, karir cemerlang, amat mandiri, dan jadi andalan hampir dalam segala hal. Membosankan, kataku. Tapi, yang mungkin tak semua orang tau, ada bagian dalam dirinya yang menyenangkan. Bagian kecilnya, yang suka membaca beraneka dongeng, tertawa-tawa menonton film animasi, menangis menonton film romantis, dan kadang suka mewarnai di ilustrasi ajaib yang dibuat seniman kreatif di luar sana.
            Dia kesepian di dunia nyata, tapi menghangat di dunia maya. Internet tentu saja. Jelas, mungkin bagian dirinya yang seperti anak-anak itu yang membuatnya bertahan hidup, lebih tepatnya merasakan kehidupan, dan banyak orang dewasa lain seperti dirinya yang memilih membentuk komunitas sosial untuk menyatukan kembali keping-keping kebahagiaan itu. Maka dia cukup bersyukur, di dunia yang itu, dia tidaklah sesendirian yang dikira.
            Jadi apa inti ceritanya..?

Them, Kumpulan Cerita Pendek Tentang Mereka (P-3) - Balada Cinta Tiga Bocah

“Nenek…”
Si bocah kacamata dengan muka memelas, tiba-tiba merengek pada Neneknya. Si Nenek yang sedang sibuk menatap layar laptop tertegun sejenak. Bocah sayu dan agak kurus itu lalu menyandarkan kepalanya dengan lemas ke bahu si Nenek.
“ Apa..? Kamu kenapa..?,” tanya Nenek prihatin. Dalam hati, si Nenek sudah tau apa jawabnya.
“ Rani..Aku sayang banget sama dia Nek. Tapi kami berantem terus belakangan ini. Aku nggak ngerti maunya dia apa,” curhat si bocah.
“ Hmm..terus..?,” lanjut Nenek.
Maka si bocah bercerita. Tentang Rani, wanita yang awalnya sahabat baik si bocah. Kemudian, seperti kata-kata indah dalam lagu popular, persahabatan jadi makin lebih. Rasa sayang tak biasa, proteksi tak sewajarnya, dan benih-benih romansa. Dan si bocah melanjutkan pertaliannya dengan Rani, menjadi lebih dari teman biasa.
Lalu waktu pun bergulir. Si bocah bilang, Rani berubah, jadi makin cemburuan gak jelas. Jadi sok ngatur, dan kebanyakan menuntut. Nenek mendengarkan dengan seksama. Tau dari awal kalau ini akan terjadi, tetapi diam saja. Nenek menyayangi bocah ini, sudah seperti saudaranya sendiri. Tetapi kalau soal hubungan dua orang, Nenek memilih untuk tidak ikut campur. Hanya berdiri sendiri, memberikan perhatian yang biasa, dan menawarkan perlindungan semampunya, bila bocah ini terjatuh.
“ Makasih, Nenek..”
Si bocah pulang, setelah mengadu panjang. Nenek tau, bocah ini akan baik-baik saja. Meskipun Nenek mengabaikan firasatnya tentang Rani. Firasat yang pada akhirnya, terjadi beberapa tahun kemudian.


            “ Bocah, lo kenapa..?”

Perbincangan di Pemakaman

Cerpen ini ditulis dalam rangka ikut memeriahkan GiveAway Writing Challenge bulan Juni 2015 di komunitas Penggemar Novel Fantasi Indonesia, dengan tema " Apa yang akan kamu lakukan bila bertemu dengan penulis favorit ?"
Selamat menikmati ^^




Perbincangan di Pemakaman

            Aku menatap nanar di kejauhan. Sedikit heran kenapa aku berada disini. Duduk sendirian melihat horizon tak berbatas dari tepian pantai yang tumben-tumbennya sepi. Jelas saja, cuaca siang itu tidak bersahabat. Langit begitu gelap, dengan sesekali gemuruh halilintar terdengar. Mungkin hujan akan turun. Aku sudah bisa mencium bau hujan yang menyenangkan itu. Namun aku tidak beranjak. Tetap duduk macam batu karang tua di sudut pantai yang terlupakan.
            Sepulang kerja siang itu, perasaanku campur aduk. Biasalah, masalah hidup, kegalauan hati, dan hal-hal yang harusnya aku abaikan, malah seenaknya muncul ke permukaan. Maka aku memilih pergi ke pantai sejenak. Melihat hampa, deburan ombak yang selalu mengalir menghantam tepian, tidak peduli jika dirinya hancur jadi buih. Dia selalu kembali dengan ikhlas dan pasrah. Mungkin takdir menempatkannya demikian, dan sang ombak merasa tak perlu buang-buang energi untuk protes.
            Berbagai lintas memori acak dan absurd muncul dalam kepalaku. Mempertanyakan semua hal yang telah aku lalui selama ini. Mengutuki diri sendiri dalam diam. Kenapa begini, kenapa begitu. Ingin rasanya aku masuk saja ke dalam salah satu cerita favorit dari novel yang aku baca selama ini. Hidup dengan penuh keajaiban dan kembali jadi anak-anak selamanya. Dongeng yang hanya dialami oleh si bocah Peter[1] seorang.
            Lalu sesuatu, tepatnya seseorang muncul begitu saja. Dengan bunyi aneh yang magis, menyeret langkahnya ke arahku. Aku mengalihkan tatapanku dari horizon. Dan disana, berdirilah seorang anak usia belasan, berpakaian ala Mesir kuno dengan sandal kulit sederhana. Ptolemy[2], kata memoriku. Logikaku protes ‘ Halusinasi, ayo pulang. Kau sudah mulai sakit’. Anehnya aku tetap terduduk disana. Menatap heran si bocah yang kuanggap perwujudan Ptolemy itu. Dia tersenyum jahil padaku, sorot mata sok tau yang ditujukan untukku seorang.
            “ Hai,” katanya tenang. Lantas duduk selonjoran di sampingku. Dia berbau seperti kertas usang berdebu. Kuno dan aneh. Aku menatapnya tak percaya. Tidak sanggup berkata apa-apa.
            “ Kau tak sopan sekali. Tak menjawab sapaanku. Aku ini kan tokoh idolamu,” katanya sedikit merajuk.
            “ Eh. H-hai,” kataku tergagap.
            “ Hahahahahaha. Tak usah kaget begitu. Aku bukan mau menelanmu bulat-bulat kali ini. Meskipun aku ingin, tapi aku dibebankan tugas yang lain. Masterku memintamu ikut. Anggap saja undangan minum teh menyenangkan.”
            Aku mengerjapkan mata. Oke, ini nyata, kataku sambal mencubit diri sendiri dan merasakan sakitnya.
            “Master ?,” tanyaku bingung.
            “Iya, lamban. Masterku. Si Stroud keparat itu,” katanya sarkastis.
            “ Stroud ? Jonathan Stroud ?,” tanyaku tak percaya.
            “ Iya nona. Si Stroud emosian itu. Yang seenaknya menarikku dari kebebasan yang indah. Dia menggambar pentacle lagi, sempurna dengan lilin-lilin khusus, yang membuatku terikat padanya,” katanya sebal.
            “ Tapi kau kan tau nama aslinya. Kau semestinya bisa melawannya,” tanyaku dengan mengabaikan kejadian ajaib ini.
            “ Ahahahahaaha. Awalnya kupikir memang demikian. Itu bukan nama aslinya. Kalian dan seluruh dunia tertipu. Omong-omong, kita sudahi saja percakapan tak berguna ini. Aku punya tenggat waktu. Pria itu nggak bakal toleransi meskipun aku mesti terbang beribu-ribu mil ke tanahmu yang tropis panas menyebalkan ini. Setidaknya disana kan dingin. Mana dia peduli aku mesti melawan berbagai jenis dedemit lokal penjaga perbatasan negaramu untuk sampai kesini. Lumayanlah, asupan energi yang bikin kenyang. Tapi aku letih, aku mau kembali dan berurusan dengan geng Penangkap Hantu[3] favoritnya yang baru,” katanya sambil menarik tanganku berdiri. Tak peduli aku setuju atau tidak untuk pergi. Genggamannya kuat mengerikan. Sesaat aku yakin lenganku bakal biru gara-gara tarikannya. Dan rasanya percuma melawan. Dalam hatiku, aku pun ingin menghilang sejenak. Kalau si bocah Ptolemy alias Bartimaeus ini memaksaku pergi, biarlah, toh dunia takkan peduli.
            Tiba-tiba terdengar gemuruh halilintar memekakkan telinga. Selanjutnya, seolah tidak bisa lebih aneh lagi, cahaya luar biasa terang muncul di lautan, memperlihatkan kapal aneh berkepala naga, iya naga, menyemburkan api pula. Terperangah, aku terpaku di pinggir pantai. Si jin mendesah enggan di sebelahku.
            Suara yang sepertinya diperbesar oleh megafon terdengar mendekat.
            “ BOCAH MESIR. JANGAN SEENAKNYA MENGACAUKAN MISIKU..!!!”
            Si Ptolemy menggerutu letih.
            “ Kau berdiri saja disini. Diam dan perhatikan. Jangan dekat-dekat,” katanya melepas tanganku.
            Si Ptolemy berubah wujud. Sepasang sayap hitam besar muncul begitu saja di punggungnya. Sosoknya pun berubah, menjadi campuran manusia dengan setengah tubuh dari pinggang hingga kaki seperti elang. Kedua tangannya kini memancarkan bola api.
            “ Anak ingusan kurang ajar !! Kesini kalau berani Valdez[4] !! Akan kutelan bulat-bulat kapal brengsekmu !!. Kau bisa minta Dewa Barang Rongsokan[5] itu sekalian berhadapan denganku !! ”
            Aku menampar diri sendiri. Ini nyata atau tidak nyata, aku luar biasa tidak paham. Sekarang tokoh-tokoh dalam novel fantasi favoritku bermunculan di sini tanpa pertanda. Pakai berantem pula.
            “ HOI NONA YANG DISANA. TUNGGU SEBENTAR. KITA NAIK KAPAL SAJA. LUPAKAN JIN TUA INI. OM RICK MAU KETEMU..!!,” teriak siluet remaja keriting belasan tahun dengan megafon ungunya. Bartimaeus terkekeh tak mau kalah.
            Dan kapalnya meliuk kesana kemari. Kepala naganya ikut menyemburkan api melawan lemparan bola api dari Ptolemy. Sesaat kemudian, Leo Valdez (Tuhan, really ???) juga mulai ikutan melempar bola api dari kedua tangannya.
            Takjub, aku menatap pertempuran di lautan itu. Tersadar, aku menatap sekeliling. Kabut. Aku sendirian. Jelas saja sedunia sepertinya tidak sadar kekacauan apa yang sedang terjadi saat ini. Aku tak sanggup mengalihkan pandanganku pada pertempuran api di depan. Tanpa kusadari, dunia bergetar, dan terdengar suara seperti kertas dirobek di sebelahku.
            “ Berisik banget ya.”
            Seseorang mengetuk bahuku. Aku menoleh, melihat cowok dengan dandanan futuristik tak lazim, seperti di film Star Trek, tersenyum padaku.
            “ Yuk, kita pergi aja. Ngapain nonton jin barbar dan ABG keriting sok pamer kekuatan,” katanya. Dia menggamit lenganku. Seenaknya merobek udara, membuka portal entah apa dan menyeretku masuk.
            “ DEMI JENGGOT MERLIN !!! HACKER !!”
            Aku menoleh ke belakang. Sekitar tiga detik sebelum menghilang, terlihat tampilan sesosok manusia ekstra besar dengan rambut dan jenggot awut-awutan naik motor terbang menuju ke arahku. Wajahnya gusar dan kelihatan kecewa.
            Portal menutup. Si ‘Hacker’ masih menggandengku melewati realitas warna-warni tidak jelas. Mirip struktur lorong waktu dari mesin waktu Doraemon.
            “ Hai, aku Joey. Joey Hacker[6]. Salam kenal.”
            Oh God, apalagi ini. Pelintas dunia parallel ini menculikku seenaknya. Aku bingung mau berkata apa.
            “ Santai aja. Paling nanti muntah kalau sudah sampai. Si Om sudah menunggu,” katanya ringan.
            Aku tak paham, realitas waktu dan ruang macam apa yang kulalui. Tiba-tiba saja portal membuka. Kami mendarat. Aku langsung muntah hebat. Si Joey terlihat prihatin, sambil menepuk-nepuk pundakku, dan menyodorkan tissue.
            “ Terima kasih,” kataku setelah berhasil berhenti muntah.
            Lalu aku menatap ke sekeliling.
            “ Ini dimana ?”
            “ Err..nggak tau juga sih ya. Aku cuma diberikan petunjuk koordinat,” katanya sambil menggaruk kepala.
            “ Yuk. Aku ada janji nge-date di semesta yang lain. Nggak punya banyak waktu.”
            Dia mengajakku berjalan ke depan. Perlahan terlihat suasana berkabut dan malam yang mencekam. Beberapa batu nisan tampak dari kejauhan. Di langit, bulan purnama besar menggantung memberikan penerangan remang-remang di jalan setapak menuju gerbang. Aku sedikit bergidik. Jelas-jelas ini pemakaman.
            Di gerbang makam, sesosok pria bertubuh tinggi besar berdiri menunggu. Begitu sampai di gerbang, Joey menepuk pundak si pria dengan santai.
            “ Hai Shadow-man,” katanya ceria.
            “ Kau terlambat Hacker,” geramnya. Aku melihat dibalik topi si pria bertubuh besar itu, wajahnya sendu dan berwibawa. Aku kenal pria ini. Tokoh dalam buku lagi, tentu saja.
            “ Nona ini kayaknya diperebutkan. Kau nggak tahu, Man. Demigod narsis dan jin arab sedang bertarung api super buat rebutan mengajaknya ketemu Tuan mereka masing-masing. Aku nyaris gagal, kalau missed sedikit saja, dia mungkin sudah naik motor sama si Rubeus Hagrid[7]. Untung timing-ku pas,” celoteh Joey.
            “ Tetap saja terlambat.”
            “ Sesukamulah. Santai sedikit dong. Okelah, antar dia ke si Om ya. Aku mau pergi dulu. Bye Shadow, bye Nona,” kata Joey sambil mengedip. Udara kembali dirobek, portal muncul, dan plop ! Dia menghilang begitu saja.
            Tanpa bicara, pria yang dipanggil Shadow[8] ini berjalan ke dalam gerbang. Aku mengikuti. Udara sekitar anehnya hangat. Kami melewati banyak makam-makam tua. Patung-patung malaikat rusak dan usang. Herannya, aku tidak takut sama sekali.
            “ Maaf, aku..,” kataku memberanikan diri.
            Shadow tersenyum menenangkan.
            “ Aku tau, kau punya banyak pertanyaan. Tapi nanti. Temuilah dia. Nanti kau bisa minta semua penjelasan. Aku hanya berkewajiban mengantarkanmu dengan selamat kehadapannya.”
            Luar biasa bingung rasanya. Tapi aku tak punya kata-kata lagi. Shadow membawaku ke sebuah taman tua, dengan pohon besar menaungi. Tampak batu-batu seukuran kursi bertebaran. Di bawah pohon, duduk seorang pria. Kurus tinggi tampilannya.
            “ Selamat datang,” katanya berjalan ke arahku. Dia menyodorkan tangannya menjabatku.
            Pria kurus dengan rambut agak gondrong bercampur uban. Dengan jins dan blazer gelap seadanya. Aku tak mungkin salah. Pria ini, yang buku-bukunya ku koleksi, yang kata-katanya kunikmati. Neil Gaiman, asli. Aku hanya bisa ternganga tak percaya.
Dia mengajakku duduk berhadapan. Tanpa kusadari, Shadow telah menghilang.
“ Apa kabar ? Silakan duduk,” katanya ramah sambil mempersilakanku duduk di bangku batu terdekat.
“ Ba-baik,” kataku gagap. Gaiman !! Neil Gaiman !! Benakku berteriak histeris. Ya Tuhan, aku ngobrol dengan pria ini !! Sekarang !
“ Sebentar,” katanya sambil menjentikkan jari.
Entah darimana asalnya, lampion-lampion putih menyala. Tampak kelebatan bayang-bayang keperakan berkeliling di sekitar kami. Jelas bukan manusia. Mereka berseliweran santai,seolah tidak terganggu dengan kehadiran kami.
“ Jangan takut. Mereka keluarga Bod[9]. Aku meminjam tempat ini sebentar. Tenang dan damai untuk bercerita panjang,” kata Gaiman tenang.
Aku mengangguk.
“ Jadi, kau menyukai cerita-ceritaku ya ?”
Aku mengangguk lagi, masih belum bisa bicara.
“ Ahahaha. Tenanglah. Aku tau ini tak masuk akal. Mungkin saja ini hanya ada dalam kepalamu. Tapi bukan berarti ini tidak nyata. Kau tentu ingat Albus Dumbledore pernah bilang begitu,” katanya.
Aku masih saja terdiam.
“ Aku selalu suka Prof. Dumbledore, untung saja aku tak kalah saing kali ini. Mungkin Rowling sedang mengamuk karena kalah cepat dariku untuk mendapatkanmu.”
“ Memangnya saya salah apa Sir ?,” tanyaku akhirnya.
Gaiman tersenyum lagi.
“ Kau menyukai buku-buku. Melarikan diri ke dalamnya. Bahkan ada sebagian dari dirimu yang ingin pindah dunia ke cerita di dalam buku. Sebegitu mengerikankah dunia nyata buatmu ?,” tanyanya menyelidik.
“ Jadi itu kesalahan, Sir ?”
Gaiman menggeleng pelan.
“ Kami para penulis, membuat dunia dalam cerita-cerita kami. Mungkin untuk melarikan diri, mungkin untuk mengobati luka hati, mungkin untuk memenuhi apa yang disebut sebagai passion bagi orang kebanyakan.
Kau tentu paham dengan baik, bagaimana kami seperti Kreator maha sempurna untuk cerita-cerita kami. Membuat jutaan pembaca terpesona. Histeris, sedih, bahagia, meneteskan airmata, atau tak bisa move on setelah cerita berakhir. Tetapi, kau harus tau. Kami tak sesempurna itu. Ada masa ketika kata-kata tak bisa dituliskan begitu saja, semua menghilang cepat ditelan kabut dalam kepala. Tetapi, kami tetap menulis, apa saja, apapun bentuknya.
Menulis adalah terapi bagiku. Memenuhi ruang-ruang kosong di dalam hati. Mengungkapkan yang sulit dimengerti dengan hanya sekedar kata. Aku tau, kau menyukai ceritaku dengan teramat sangat. Aku berterima kasih untuk itu. Tapi, kau punya cerita sendiri, Nona,” jelasnya panjang lebar.
Aku mencerna kata-katanya.
“ Mungkin saya lelah, Sir. Lelah dengan kesendirian berkepanjangan. Bosan dengan rutinitas. Letih dengan segala macam topeng yang mesti dihadapi tiap hari,” ungkapku sejurus kemudian.
Gaiman terkekeh pelan.
“ Kita semua memakai beraneka topeng masing-masing. Mungkin sampai kita mati. Tapi, nikmatilah prosesnya, belajarlah menghadapinya. Dunia ini penuh kepura-puraan. Hanya Tuhan yang tau esensi pribadi di dalam diri.”
Aku terdiam.
“ Santai saja. Aku disini bukan untuk menghakimimu.Kita sedang ngobrol enak tentang kehidupan,” kata Gaiman enteng.
Aku tersenyum tipis. Di hari yang aneh ini, akhirnya aku menemukan sedikit ketenangan.
Anyway, dari cerita-ceritaku, yang mana favoritmu sejauh ini ?,” tanyanya ingin tahu.
Aku berpikir sejenak.
“ American Gods,” jawabku.
Gaiman tersenyum.
“ Boleh kutahu mengapa ?”
“ Perjalanan. Shadow menjalani kehidupannya tanpa banyak protes. Meskipun dia terpuruk begitu dalam di semua aspek kehidupan. Tapi dia menjalaninya, begitu saja. Kadang, saya ingin begitu, Sir. Tidak banyak maunya pada dunia fana ini,” kataku setengah curhat.
“ Banyak di antara kita yang sulit menerima. Kadang kita memaksakan diri untuk keluar dari batas-batas yang tak pernah ada. Lalu kembali menyalahkan semua yang terjadi pada kita. Kita menolak belajar. Menolak memahami indahnya suatu proses penerimaan. Hingga akhirnya menyambut penerimaan itu pun, kita tak sudi. Padahal, penerimaan adalah awal dari penyembuhan. Sebegitu berkuasanya pun waktu, selama apapun detik yang kau habiskan, jika kau tidak menerima luka, kau takkan pernah merasakan leganya kesembuhan.”
“ Berarti pilihanku tepat meminta Shadow mengantarmu.”
Aku menggangguk.
Kemudian kami berbincang-bincang lagi. Tentang novel-novelnya, kehamilan istrinya, akan seperti apa kelanjutan petualangan penculikku, si Joey Hacker, dan cerita masalah-masalah pribadiku yang berwarna-warni. Aku tak sangka bisa bertukar cerita dengan sang pendongeng legendaris ini.
Gaiman menjentikkan jari lagi. Muncul sosok kabut memadat membawa sesuatu yang seperti sepoci teh, dua cangkir keramik aneh, dan biskuit.
“ Teh hijau, biskuit jahe. Silakan.”
Aku menerima cangkir teh, mencicipinya sedikit.
“ Terima kasih. Teh-nya enak.”
Gaiman terkekeh.
“ Aku meminta daun tehnya dari Prof. Longbottom[10]. Herbologinya sukses sekali sekarang. Hogwarts sudah mulai mengimpor teh hijau terbaik ke dunia Muggle. Akibatnya teh hijau jadi trend lagi belakangan.”
Aku mencerna fakta ini dengan senang.
“ Sayangnya waktu kita sudah mau habis. Aku punya janji dengan tiga penulis lain yang kukalahkan,” kata Gaiman puas.
“ Saya tidak tau mesti berkata apa, Sir. Ini tidak nyata bagi saya.”
Gaiman tersenyum.
“ Mungkin memang tidak. Tapi kau takkan berhenti membaca, kan !?”
“ Saya jamin itu, Sir.”
“ Belajarlah menulis. Itu akan membantu. Bukan untuk ketenaran. Bukan untuk pengakuan. Murni, untuk dirimu sendiri,” katanya mendalam.
Gaiman menjentikkan jarinya, Shadow muncul kembali.
“ Shadow, tolong ya.”
Shadow mengangguk.
Satu pertanyaan terakhir,pikirku.
Sir, maaf. Mengapa Mr.Riordan, Mr.Stroud, dan Mrs.Rowling juga ingin bertemu saya ? Saya tak mengerti,” tanyaku penasaran.
Maybe, story material. Atau mereka memang ingin tahu apa yang aku rencanakan. Siapa yang tahu !? Tenang, Bartimaeus dan Leo Valdez tidak saling membunuh. Mungkin sekarang mereka sedang memanggang gurita di tengah lautan,” jawab Gaiman dengan jenaka.
Gaiman berdiri, melambai, lalu menghilang. Tinggal aku dan Shadow.
“ Pulang ? Atau ke pantai ?,” tanyanya kemudian.
“ Pulang,” jawabku mantap.
Kami berjalan ke luar pemakaman, melewati gerbang, masuk ke kabut beraroma kayu manis, pekat dan kebiruan. Lalu gelap. Gelap total.
            Nyanyian sayup menyadarkanku. Aku sendirian, di dalam mobil, mesinnya menyala. Kalap, aku melihat ke sekeliling. Malam telah muncul, bulan yang besar masih bersinar. Ternyata aku di depan rumah.
            Terheran-heran sendiri, aku mematikan mesin mobil. Mengambil tas ku, dan melihat satu eksemplar American Gods tergeletak di jok. Kuraih buku itu, merasakan butir-butir pasir menyentuh tanganku. Kubersihkan sekenanya, lalu semakin heran ketika menemukan ujung halaman-halaman awalnya agak terbakar. Mengabaikan ini, aku beranjak ke dalam rumah
            Mungkin cuma mimpi, mungkin juga tidak. Dan mungkin, aku akan mengerti, hidup bukan hanya sekedar hidup. Ada baiknya aku mulai belajar menulis ceritaku kembali. Untuk diriku sendiri.



[1] Peter Pan, seorang anak yang tidak pernah jadi dewasa dalam cerita klasik karya JM.Barrie
[2] Ptolemy alias Ptolomeus adalah salah satu tokoh bangsawan Mesir Kuno yang sosoknya sering dipakai oleh Jin Bartimaeus, dalam seri Bartimaeus Trilogi karya Jonathan Stroud
[3] Geng Penangkap Hantu yang dimaksud disini adalah Agensi Pembasmi Hantu di London yang terdiri dari Anthony, Lucy, dan George dalam seri Lockwood&Co. karya Jonathan Stroud
[4] Leo Valdez, salah satu tokoh remaja dalam seri Heroes of Olympus karya Rick Riordan, merupakan seorang Demigod (peranakan manusia dan dewa mitologi Yunani-Romawi)
[5] Dewa yang dimaksud disini adalah Hephaestus, salah satu dewa dari mitologi Yunani yang ahli dalam perbengkelan dan memperbaiki serta menemukan barang-barang baru (masih berdasarkan seri Heroes of Olympus dan Percy Jackson karya Rick Riordan)
[6] Joey Hacker adalah tokoh utama dalam novel seri Interworld karya Neil Gaiman dan Michael Reeves, yang menceritakan mengenai semesta parallel dan penjelajahnya, serta perang epik di dalamnya
[7] Rubeus Hagrid adalah tokoh manusia setengah raksasa yang berprofesi sebagai salah satu guru dan pengawas binatang liar di Sekolah Sihir Hogwarts dalam seri Harry Potter karya JK.Rowling
[8] Shadow adalah tokoh utama dalam novel American Gods (Dewa-dewa Amerika) karya Neil Gaiman, yang menceritakan mengenai pertarungan antara dewa generasi lama dan baru dimana Shadow terlibat di dalamnya sebagai manusia biasa
[9] Bod, alias Nobody Owens adalah anak laki-laki tokoh utama dalam novel The Graveyard Book (Cerita dari Pemakaman) karya Neil Gaiman
[10] Prof.Neville Longbottom, guru salah satu mata pelajaran di Sekolah Sihir Hogwarts, dalam akhir seri Harry Potter, Nevillesebagai salah satu sahabat Harry akhirnya berhasil menjadi professor di sekolah tersebut