October 22, 2015

Smoke, Signs, Lights

Hai...
Bukannya mau ikut-ikutan mengutuki asap..tapi hanya sekedar berharap kalau situasi akan segera membaik..Saya tau, mati itu pasti, tapi sedih sekali kalau semuanya diakhiri karena ulah tak bertanggung jawab makhluk yang katanya bersifat sosial ini..
Oke, tahan sejenak..berdoa semoga hujan segera turun..deras dan lama... I miss rain so much
Saya memang sangat tidak konsisten menulis..terlalu moody dan banyak alasan..makanya saya nggak bisa sedikitpun mencuilkan jejak di ranah menulis profesional..meskipun saya ingin, meskipun ada bagian dalam diri saya yang minta untuk menulis dan membaca saja..tak usah kerja seperti sekarang..
Alangkah tidak bersyukurnya...
Beberapa minggu ini banyak tanda-tanda dalam kehidupan saya yang muncul memberi warna dalam hari-hari abu-abu bosan seperti biasanya...mulai dari kejutan yang manis maupun sedih..yang rumit dan sederhana..yang penting dan gak penting..yang nyata ataupun hanya berkeliaran dalam mimpi..
Sahabat saya, penulis panda, sedang menghilang dan berkubang dengan dunianya sendiri..saya masih kepo sih kayak biasa, tetapi ya itulah..he's tired and off for a while
Lalu si owl guy, muncul kembali, tanpa pertanda, tetap seperti biasa, dan anehnya, dia akhirnya berusaha..berusaha menemukan kembali jalan cerita hidupnya, meskipun pelan, sedikit, dan kesannya sepele..tapi, Tuhan melibatkan saya dalam prosesnya..
Dan saya, masih berusaha mencintai dan bersyukur dalam rutinitas harian, termasuk multitasking, begadang namatin novel (Gollem n Jinni, keren banget, beserta buku-buku penunjang lainnya, ih banyak gaya), sok tahu soal segalanya, dan sedikit memacu adrenalin di jalanan (banyak gaya, saya hanya sedikit belajar sama supir angkot kota ini)..
Terakhir, kita tak tahu kalau rencana-Nya itu jauh lebih keren dari semua rencana-rencana kita...mungkin belum..mungkin dalam proses..mungkin sebentar lagi cahaya-Nya bakal nongol...satu yang saya doakan..
Tuhan, jangan lelah merencanakan yang paling baik buat saya dan mereka...amiinn..

*edisi setengah waras..boleh diabaikan bila tak berkenan

October 5, 2015

Dilema Ensiklopedia (Bagian Pertama)


“ Sore, Mas..”

Aku mengenyakkan tubuhku di sofa alias jok mobil lama yang dimodifikasi bermotif perca itu, sambil mengetuk bahu cowok gondrong yang sedang duduk bersila di depan laptop.

“ Pulang kerja ? Rame ?,” katanya sambil tidak mengalihkan tatapan mata dari kerjaan di depannya

“ Biasalah, Mas. Plus drama-drama gak jelas.”

“ Bersyukur atuh Neng. Jaman sekarang banyak yang gak punya kerjaan kece macam kamu,” katanya sok bijak.

“ Iya sih. Tapi yah…Anyway, laper gak Mas ?,” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

A bit.

“ Ya udah, tunggu bentar. Kopi juga kan ya.”

Aku beranjak ke dapur kecil di ujung ruangan itu. Membuka kulkas mini warna hijau, mengecek isinya, mengambil dua butir telur dan sayuran apapun yang tersisa. Cowok yang kupanggil Mas Ray ini sepertinya harus diingatkan untuk belanja mingguan. Untung ada stok mie instan.

Sambil menggoreng telur, aku menyeduh air panas. Air di dispenser tinggal sedikit, Ray pasti lupa. Sudah makin pikun atau tergencet deadline. Tapi setidaknya ruangan ini masih ‘lumayan’ bersih di tengah segala detail kekacauan dalam dimensinya yang terbatas.

Kami menyebut tempat ini The Bunker. Ini dulunya adalah gudang tua terlantar di pinggir kota. Ray jatuh cinta pada pandangan pertama pada tempat ini. Gudang tua dengan lapangan mini. Kemudian membelinya secara kredit, mengubah dekornya, menambahkan ini itu, dan jadilah semacam basecamp. Ray juga mencomot tiang basket entah darimana, menambahkan ayunan besi yang diperoleh entah dari siapa. Aku menambahkan detail ‘rumah’ di dalamnya. Dapur dan alat bersih-bersih. Ray pura-pura lupa soal ini. Tapi dia dengan cerdas menyeretku melihat The Bunker setelah diubah asal-asalan sok artistik olehnya. Lantas seenaknya memintaku menambahkan detail.