September 11, 2016

Dilan : Punggung Yang Menjauh Perlahan (Spoiler Alert !!!)

Halo...
Kembali lagi dengan curhat buku bacaan ala si Oni yang kurang kerjaan. Kali ini saya akan membahas buku (tepatnya 3 buku) tentang seorang cowok bernama Dilan. Setting-nya Bandung tempo dulu, tahun 1990-1991.
Dilan 1990, Dilan 1991, dan Milea
Saya tidak akan mengulangi kata-kata manis dan quotable milik Dilan, cowok tengil memikat ini. Tetapi buat saya yang awalnya dapat buku pertamanya gratisan (dari ibu suri editor), saya nggak nyangka bakal naksir cowok ini. Tetapi saya akan berada di posisi adik kelas yang naksir diam-diam, yang hanya melihat sepak terjang bang Dilan dari kejauhan. Melihat betapa kokohnya punggung berseragam SMA kucel itu menjaga apa yang menjadi prinsipnya, dan menjaga hatinya buat kak Milea yang beruntung.

DILAN : DIA ADALAH DILANKU TAHUN 1990, menceritakan manisnya cita cinta masa SMA tahun 90-an antara Dilan dan Milea. Dilan ini bandel, tapi bertanggung jawab, punya keluarga yang unik, dan mendukungnya dengan cara yang bikin iri. Dilan dan geng motornya, warung bi Eem, serta berbagai tempat favorit di kota Bandung jaman itu, bikin suasananya enak dan somehow bikin pengen ngerasain suasana jaman itu, yang katanya tak seriuh sekarang.
DILAN : DIA ADALAH DILANKU TAHUN 1991, edisi spesial tandatangan ayah Pidi Baiq (pamer), dengan mengusung kalimat 'Tujuan pacaran adalah untuk putus. Bisa karena menikah, bisa karena berpisah'. Buku ini nongol tahun 2015 lalu, ketika saya baru baca buku pertamanya, sehingga hype saya masih berlebihan. Tetapi buku ini jauh lebih serius. Dilan dan Milea ternyata tidak sejalan dan mereka berpisah, menyisakan banyak pertanyaan dan kepahitan yang entahlah terasa begitu realistis.
Kedua buku ini memakai sudut pandang Milea. Pidi Baiq pintar sekali memakai dialog-dialog baper dan khasnya cewek-cewek dengan begitu pas, sehingga kita dibikin yakin kalau ini Milea yang curhat. Menariknya, kedua buku tentang Dilan ini begitu enak dicerna dan bagi saya berhasil bikin terbawa perasaan, entah karena saya yang receh, entah karena memang begitulah adanya.
Sejatinya saya tidak pernah menyangka akan bertemu Dilan lagi. Saya pikir ceritanya sudah berakhir. Eh taunya Agustus 2016 kemarin, MILEA : SUARA DARI DILAN, hadir dalam daftar buku-buku pesanan saya. Saya sedikit kaget dan kangen, sekaligus penasaran. Ini tulisan dari sudut pandangnya Dilan. Dan memang, di buku ini menjawab berbagai asumsi di kedua buku sebelumnya. Dan saya dibuat sedikit terharu, karena buku ini memberi kenangan, pelajaran, dan pahit-manisnya begitu nyata, tidak dipaksakan. Kesalahpahaman dan pertanggungjawaban, menjadi poin yang mestinya bisa dijadikan renungan.
Saya menyukai ketiga buku ini. Jauh dari genre fantasi favorit saya. Dan ini lokal pula. Saya - jujur saja - adalah pembaca yang skeptis terhadap karya lokal kekinian, cobalah sodorkan saya teenlit, maka saya akan berjengit. Tetapi Pidi Baiq berhasil membuat saya tersenyum, terkesan terhadap Dilan, meskipun kini hanya tinggal kenangan.
Ada yang bilang kalau Dilan ini adalah masa muda penulisnya, dengan sedikit tambahan disana-sini. Hal ini bikin saya penasaran, pengen ketemu Pidi Baiq, ngobrol minum teh dan ngemil donat cokelat, sambil bercerita soal penulisan dan Dilan tentunya. Semoga saja bisa kejadian.
Akhir kata, selamat bernostalgia dengan kisah manis apa adanya. Terima kasih Dilan.
(PS : saya berharap buku ini tidak difilmkan, karena ekspektasi saya akan ketinggian, dan saya akan emosian kalau tak sesuai harapan)
Sekian. Wassalam...^^

2 comments: