September 4, 2016

I Get Orwelled

Ketika si Oni sedang rajin menulis (baca : curhat), tentang buku-buku yang dibacanya...maka terjadilah..
Kali ini bukan bacaan di genre yang biasa saya baca. Ceritanya begini, sebenarnya tumpukan bacaan September saya sudah ada, belum lagi wishlist yang nongol di awal bulan ini. Tau-tau, ada buku berwarna merah muda menyala bergambar babi nongol di toko buku langganan saya, dan saya menyambarnya begitu saja.
ini dia buku merah muda itu
Sejatinya, buku ini sudah sering wira-wiri dimana-mana, sempat direkomen oleh teman-teman di jagad perbukuan saya. Sebenarnya saat mau membaca buku tipis 140-an halaman ini, saya sedang membaca novel fantasi, namun karna bosan, stuck dengan kegalauan tokoh-tokoh utamanya, saya akhirnya keluar dari comfort-zonenya saya. Tumben bener.
Lantas ? Dapat apa ?

Cukup dengan baca buku ini aja, saya merasa miris dan jijik sekaligus. Alegorinya, pahit. Bikin saya membayangkan apa yang sebenarnya terjadi di tahun 1940an saat buku ini ditulis. Mungkin tidak jauh berbeda dengan masa sekarang, tetapi melihat kegamblangan yang dipampangkan lewat kelakuan babi-babi ini, saya terperangah sekali. George Orwell berhasil menyita perhatian saya. Sehingga saya buru-buru mencari buku fenomenalnya, 1984 (terbit tahun 1949 edisi aslinya), yang sudah diterjemahkan berkali-kali ke edisi bahasa Indonesia.
(anggaplah ANIMAL FARM ini pembuka, saya terlalu malas memberikan rincian deskripsi kelakuan babi-babi disini - Kaki empat baik, kaki dua lebih baik)
edisi ini yang saya punya, suka covernya

PERANG IALAH DAMAI, KEBODOHAN IALAH KEKUATAN, PERBUDAKAN IALAH KEBEBASAN....
Mengambil setting tahun 1984, seorang pria dewasa bernama Winston Smith, seorang warga negara baik yang mematuhi setiap aturan Partai di negaranya. Akan tetapi, di dalam hati dan pikiran terdalamnya, bercokol hasrat antipati terhadap kediktatoran Partai ini. Winston terjebak, terseret, dimanipulasi, dan sejatinya dianggap tak punya arti.
Hampir semua referensi yang saya tau, dan beberapa pendapat teman, menyatakan bahwa 1984 ini adalah dedengkot genre distopia, genre bacaan yang sedang menjamur saat ini. Setelah kelar membacanya satu jam sebelum curhat ini ditulis, bahkan saat bukunya baru saya baca setengah, saya tidak meragukan pernyataan itu. Diterbitkan tahun 1949, buku ini mampu menjadi momok dan semacam ramalan menakutkan tentang tahun 1984. Dimana pemerintahan mengatur semuanya, termasuk isi pikiran rakyatnya. Semuanya, tidak ada kesenangan, sampai urusan hubungan seksual hingga cokelat yang dijatah.
Setelah membaca 1984, saya merasakan kerecehan (apasih bahasanya) dari distopia-young adult yang sudah saya baca beberapa judul (sudah difilm-kan juga, dengan hype tertentu). 1984 adalah bentuk utopia-distopia nyaris tak bercelah yang membuat saya merinding. Saya tidak ingin menjejakkan seujung kuku kelingking jari kaki pun di dunia dalam ceritanya. Yang membuat takut, beberapa elemen dalam 1984 ini sepertinya sudah terjadi di dunia nyata. Dunia yang saya tinggali saat ini.
Partai mengatur segalanya, menulis ulang sejarah, menghancurkan memori, menghilangkan orang-orang, mengatur media, isi pikiran, hingga semua yang harus diucapkan. Newspeak, kosakata-kosakata baru, mengganti kosakata lama. Menjadikan sosok Bung Besar (The Big Brother) menjadi satu-satunya sosok cinta absolut yang diperbolehkan, beserta kepatuhan nirmanusiawi.
Nggak perlu adegan perang bombastis, teknologi canggih, ceceran darah, atau aksi dahsyat. 1984 tidak menyuguhkan itu, tetapi world-building distopianya begitu menenggelamkan. Wajar saja banyak yang terinspirasi dari novel ini. Pengrusakan isi pikiran yang terorganisir dengan super cermat oleh Partai yang berkuasa, begitu menyeramkan. Kita bisa dibuat mematuhi bahwa dua tambah dua sama dengan lima, bukannya empat sesuai kaidah matematika dasar.
Memaknai sesi membaca yang ini, secara resmi saya mengakui bahwa saya sudah ORWELLED. Saya harus curhat ke dua teman lain yang sudah membaca 1984 ini untuk memadamkan luapan perasaan hampa-parno-campuraduk-terperangah, sulit dijelaskan gamblang. Lagipula saya nggak mau spoiler, jika berminat, bacalah buku ini. Mungkin reaksi anda akan sama, atau malah apatis, atau malah ngantuk. Bagi saya, menyelesaikan buku ini adalah salah satu pengalaman literasi yang agak sulit terlupa. Akan terngiang-ngiang. Dan tentunya, 1984 akan menjadi patokan secara tidak langsung, sadar maupun tidak, terhadap bacaan distopia saya ke depannya. (1984, terbit tahun 1949, dibaca tahun 2016, dan begitu mencengkram pikiran.)

BUNG BESAR SEDANG MENGAWASI SAUDARA.

No comments:

Post a Comment