January 31, 2016

Hidup Bukan Hanya Tentang Kamu Saja

Yes..i just a very common form of particle in the entire universe..
Gak kerasa bulan pertama tahun ini udah mau habis dalam hitungan jam (saat tulisan ini diketik..), dan saya akan merekap apa saja yang saya lakukan di sepanjang bulan ini.
Selain pekerjaan rutin harian yang masih sok sibuk, alhamdulillah saya masih sempat membaca beberapa buku-buku dan cerpen dan dongeng dan curhat dan apalah apalah di sekitar saya..kita rekap sedikit ya..
Di akhir desember 2015, tergoda cover yang super kece dan ditambah review tentang sang pengarang eksentrik ini, akhirnya saya memutuskan untuk memasukkan empat buku dari seri Penjelajah Antariksa karya eyang Djokolelono ke dalam koleksi saya..
Noh..kece badai banget covernya
Seri penjelajah antariksa ini menceritakan petualangan manusia masa depan yang menyebut dirinya sebagai manusia Terra, pindah dari bumi yang kita kenal, menuju ke planet-planet lain yang mungkin untuk ditinggali. Tokoh utama kita adalah 4 bersaudara Veta,Vied,Stri, dan Raz. Sekelompok anak (dan remaja) ini mesti berjuang untuk bisa berkumpul kembali dalam suatu keluarga utuh, menjelajah antariksa yang mahaluas. Luarbiasanya, meskipun awalnya sempat bingung (saya masih lemot sih), seri penjelajah antariksa ini pertama kali keluar tahun 1985 (helaw..belom lahir saya), dimana mungkin saat itu sedang trend sekali masalah fiksi ilmiah astronomi yang akhir tahun ini gempar kembali akibat StarWars Episode VII. Saya merasa tergugah dengan kepiawaian eyang Djoko. Beliau berhasil mengolah perang antariksa dengan kata-kata hebat, membuat saya berasa membaca komik asik tanpa gambar. Dan mungkin saya harus nonton StarWars (saya adalah bagian dari populasi di dunia ini yang belom nonton film epik tersebut satu seri pun). Saya udah janji mau minta sama si panda, sahabat saya, tapi entah kenapa belom juga terealisasi.

January 19, 2016

Anemon Laut

Kalau dipikir-pikir, si anemon mungkin jauh lebih tangguh dari saya.
Di sela-sela jam kerja yang sepi, hujan deras, baterai henpon habis, tapi untung ada laptop dan wi-fi gratis, akhirnya saya menulisi blog sepi berdebu ini. Dengan mencomot gambar seenaknya dari google, dari kemarin-kemarin kepikiran membandingkan diri dengan sesosok anemon laut.
ini anemon laut berwarna merah jambu

Jadi mengapa memikirkan si anemon ?
Gak ada sih, sebenarnya hanya ingin mencoba menelusuri ketangguhan hewan (atau tumbuhan ya..?) ini. Letaknya selalu di dasar perairan terbawah, berwarna-warni, kelihatan lunak, tapi sebegitu pentingnya untuk ekosistem kelautan dan perikanan. Meskipun tampilannya cakep, tapi si anemon ini serem, karena jadi predator juga. Memakan hewan-hewan yang terjebak di antara tentakelnya.
Katanya sih, alam adalah guru terbaik, mungkin memang demikian. Si anemon ini salah satunya. Dengan sok mengaitkan pada kondisi diri sendiri, saya berpikir kalau si anemon ini jauh lebih kece dibandingkan saya. Anemon yang unyu mampu bertahan, sendirian mungkin, di dasar, kokoh dan sabar. Sedangkan saya, sejak awal tahun yang baru ini masih saja suka ngomel-ngomel ga jelas dan kurang bersyukur. Mengakibatkan diri sendiri dan banyak kalangan terkena imbasnya.
Ah, maybe i choose not to grow up well as adult, a child at heart.