July 22, 2016

And Yet We Have To Let Go of The Book, The Story, and of course with Laugh and Tears

Hi..
Problema pembaca buku baperan kayak saya adalah book hangover. Membaca novel fantasi yang berseri, menimbulkan kepuasan tersendiri, sekaligus menyakitkan, karna di buku terakhirnya, kita akan menerima kenyataan kalau petualangan kita udah selesai, dan kita harus say goodbye dengan tokoh-tokoh di dalamnya. Super ya, drama banget gueh, tapi ya gimana. Kenyataannya memang demikian.
Yok kita mulai dengan buku jahat-bikin nangis-gak rela-sakit hati-sampai lempar bukunya ke kasur terdekat (karna kalo lempar ke tembok takut rusak), yakni WARRIOR WITCH, buku terakhir dari THE MALEDICTION TRILOGY karya Danielle.L.Jensen. Setelah dua buku sebelumnya bikin emosi karna cliffhanger, maka buku terakhir ini nyakitin banget, kelar sih, tapi bikin termenung.
Cover Edisi Asli
Nungguin terjemahannya kayaknya nggak ada harapan, jadi kalap beli aslinya (alah alasan), bahasanya gak serenyah novel kebanyakan, perlu usaha fisik dan mental buat menamatkannya (serius loh ini). Terus di beberapa bagian emosi, nangis, dan akhirnya goodbye Cecile dan Tristan, selamat kembali ke dunia Troll yang penuh cahaya matahari. (masih sebel sama si ratu es, dan peluk peluk sayang buat si kembar Vincent-Victoria, plus hati hilang sebelah karna Marc--sudah ah, baper).

Bara Api Jingga

Cerpen ini dibuat dalam rangka mengikuti Giveaway Penggemar Novel Fantasi Indonesia bulan Juli 2016


Sabtu, 16.47 WIB
            Ruang rapat mulai kosong. Hiruk pikuk diskusi alot tadi sepertinya sudah menghilang begitu saja, digantikan dengan sisa-sisa kertas dan whiteboard yang penuh coretan. Hanya tinggal Jingga yang masih sibuk dengan laptopnya, mengecek berulang-ulang semua persiapan, rundown, sponsor, perlengkapan, dan segala celah dalam penyelenggaraan Festival Budaya Kampus minggu depan. Jingga, sang Ketua, sedikit perfeksionis, membatin berulang-ulang kalau acara ini harus sukses dan meriah sampai penutupan selesai. Dengan harapan festival ini akan jadi kenangan manis bagi semua yang menyaksikannya.
            “ Mas Jingga, saya duluan ya, permisi.”
            Jingga kaget, dia pikir dia tinggal sendirian. Ternyata Rem barusan pamit.
            Remiza Astria, mahasiswi semester 3 dari Fakultas Psikologi yang sedikit menggugah rasa ingin tahunya. Kacamata, kucir kuda, ransel biru tua, dengan tampilan seperti anak SMA, tak lupa kamera SLR besar yang dibawa kemana-mana. Menarik, pikir Jingga. Tetapi sayang, Rem selalu ditemani Mo, seperti pengawal pribadi, dan akan sulit bagi Jingga untuk mencoba mendekatinya.
            Bukan berarti tidak bisa, batin Jingga.